vivobetting
Contact Admin
bandar Q
Ini Cerita Mistis Dibalik Indahnya Pulau Mintin

Ini Cerita Mistis Dibalik Indahnya Pulau Mintin

Pulau mintin disebut – sebut pernah dijadikan tempat pertapaan oleh Presiden Pertama RI Soekarno. Pulau tersebut dipercaya dijaga oleh naga dan buaya kuning. Pulau mintin terledak di Kahayan Hilir, Kabupaten Pulau Pisau, Kalimantan Tengah.

Namun dibalik pesonanya yang luar biasa pulau tersebut menyimpan cerita mistis yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat sekitar.

Aneka hayati hidup di dalam pulau yang konon menurut masyarakat setempat merupakan bagian dari sebuah menara. Namun, tidak bisa sembarangan orang masuk ke pulau tersebut. Apabila ada yang ingin ke sana harus didampingi seseorang yang sudah mengenal pulau tersebut.

Sentuhan mistis yang masih dipercaya masyarakat jadi alasan, mengapa tidak sembarang orang yang berani masuk pulau tersebut. Ada dua pulau yang ada di daerah tersebut yakni Pulau Mintin Besar dan Pulau Mintin Kecil. Yang besar namanya Kambe Hai (Hantu Besar) dan yang kecil namanya Buaya Kuning. Cukup seram didengar.

Berdasarkan cerita rakyat, pada zaman dahulu terdapatlah sebuah kerajaan di Pulau Mintin. Kerajaan itu sangat terkenal akan kearifan rajanya. Pada suatu hari permaisuri dari raja tersebut meninggal dunia, sejak saat itulah sang raja menjadi murung dan nampak selalu sedih. Pada saat yang sama, kesehatan raja pun semakin menurun.

Agar tidak berlarut – larut, sang raja berniat pergi berlayar guna menghibur hatinya. Tahta kerajaan diserahkan kepada kedua anak kembarnya yang bernama Naga dan Buaya.

Sejak sepeninggal sang raja, kedua putranya tersebut memerintah kerajaan. Namun sayangnya muncul persoalan baru. Kedua putra raja tersebut memiliki watak yang berbeda.

Naga mempunyai watak negatif seperti senang berfoya-foya, mabuk-mabukan dan berjudi. Sedangkan buaya memiliki watak positif seperti pemurah, ramah tamah, tidak boros dan suka menolong.

Melihat tingkah laku si Naga yang selalu menghambur-hamburkan harta kerajaan, maka Buaya pun marah. Karena tidak bisa dinasehati maka si Buaya memarahi si Naga.

Rupaya naga ini tidak mau mendengar. Pertengkaran itu berlanjut dan berkembang menjadi perkelahian. Prajurit kerajaan menjadi terbagi dua, sebahagian memihak kepada Naga dan sebagian memihak pada Buaya. Perkelahian makin dahsyat sehingga memakan banyak korban.

Dalam pelayarannya, sang raja yang sedang bersedih hati tadi mempunyai firasat buruk. Maka sang raja pun mengubah haluan kapalnya untuk kembali ke kerajaanya. Betapa terkejutnya dia ketika menyaksikan bahwa putera kembarnya telah saling berperang.

Raja pun marah pada kedua anaknya itu, karena sudah menyengsarakan rakyatnya. Maka dari itu, sang raja memberikan hukuman kepada kedua anaknya. Buaya dihukum jadi buaya yang sebenarnya dan hidup di air.

Karena kesalahanya sedikit, maka diperbolehkan menetap di daerah tersebut dan tugasnya menjaga Pulau Mintin. Sedangkan anaknya yang bernama Naga dikutuk jadi naga yang sebenarnya. Karena kesalahannya besar maka harus tinggal di sepanjang Sungai Kapuas. Tugasnya untuk menjaga agar Sungai Kapuas ditumbuhi Cendawan Bantilung.

Setelah mengucapkan kutukan itu, tiba-tiba langit gelap dan petir menggelegar. Dalam sekejap kedua putranya telah berubah wujud. Satu menjadi buaya. Yang lainnya menjadi naga.

Pulau itu juga dipercaya pernah disinggahi Presiden Pertama RI Soekarno. Tidak diketahui kapan Soekarno pernah ke sana dan apa tujuannya. Menurut kepercayaan orang sana, pulau tersebut dari sejak dahulu kerap dijadikan petapaan atau bersemedi dengan maksud dan tujuan tertentu.

Ternyata tidak hanya Soekarno saja yang disebut pernah bertapa di sana. Pahlawan Kalimantan Tengah Tjilik Riwut juga pernah melakukan pertapaan di Pulau Mintin. Konon di pulau Mitin Besar dipercaya dihuni mahluk halus yang memiliki perawakan tinggi dan besar. Dari kisah turun-temurun, bagi yang memiliki nazar atau permintaan, jika dikabulkan harus membayar dengan babi sebagai makanannya.

Bagian ujung sebelah utara pulau ini terdapat lubang dibawah air yang disebut-sebut sebagai tempat tinggal Naga. Apabila terjadi pusaran air dan riak, masyarakat setempat percaya Naga yang tinggal didaerah ini sedang kembali atau keluar dari sarang.

Sedangkan Pulau Mintin Tengah disebut masyarakat setempat sebagai Djata. Pulau ini ditinggali seekor buaya kuning. Sampai sekarang ini, masyarakat masih ada yang melihat penampakan buaya kuning tersebut.

Di pulau ini juga terdapat rumah keramat, yang dijadikan sebagai tempat pertapaan yang digunakan oleh masyarakat setempat untuk mengajukan berbagai permohonan. Masyarakat setempat juga percaya, bahwa batu merah dari menara ini yang bisa membuat air asin yang masuk dari laut menjadi tawar.

Pengembangan potensi wisata di sana sangat diharapkan karena pulau dengan luas mencapai 3 kilometer persegi ini kaya akan berbagai macam tanaman dan berbagai spesies hewan didalamnya. Berbagai jenis pohon dan tanaman obat ada didalam pulau ini, sedangkan bermacam hewan seperti kera dan bekantan masih sering dijumpai.