Contact Admin
Contact Admin
bandar Q
Libur Poker, Dewa Poker Online, Poker Terpercaya
Harga Mencengangkan Dari Bangkai Pesawat Garuda Indonesia

Harga Mencengangkan Dari Bangkai Pesawat Garuda Indonesia

Tomo (39) dan salah satu rekannya mempreteli spare part pesawat yang sekiranya masih bagus.  Terpisah dari bagian tubuh pesawat lain yang sudah dimutilasi sebelumnya. Sebelum memulai aksinya, Tomo harus memastikan bahan bakar avtur di pesawat sudah dikuras habis tanpa sisa. Risikonya terlalu besar jika masih ada sisa avtur.

Meski sudah tak segagah saat masih mengangkasa, bangkai pesawat bekas milik maskapai Garuda Indonesia tetap berharga. Bahkan rongsokannya saja jadi lahan bisnis baru, jual beli pesawat bekas. Bisnis ini yang digeluti perusahaan tempat Tomo bekerja, PT Wirajaya.

Perusahaannya membeli dari kurator (jika perusahaan maskapai bangkrut) atau membeli langsung dari pihak maskapai. “Sistemnya lelang juga,” ujar Tomo.

Harga bangkai pesawat masih tergolong mahal. Untuk mendapatkan hak atas satu unit bangkai pesawat Garuda Indonesia yang tengah dikerjakannya, perusahaan tempatnya bekerja harus menukar dengan uang sekitar Rp 300 juta. Jika kita bandingkan dengan harga mobil baru, maka harga bangkai pesawat Garuda Indonesia itu setara dengan membeli Nissan X Trail atau Honda tipe HR-V.

Dari penuturan Tomo, perusahaan tempatnya bekerja bisa mengantongi untung dua kali lipat dari harga beli bangkai pesawat tersebut. Keuntungan itu didapat dari hasil menjual bahan alumunium badan pesawat.

“Paling untuk satu pesawat bisa kita ambil 15 ton alumuniumnya. Nanti kita jual ke pabrik peleburan alumunium atau bisa dijual perorangan juga,” katanya.

Dia memaparkan hitungan keuntungannya. Setelah seluruh badan pesawat dimutilasi dan dikeluarkan dari bandara, rongsokan pesawat itu dibawa ke pabrik peleburan alumunium. Harga untuk 1 kg alumunium mencapai Rp 15.000.

Jika total berat alumunium satu pesawat mencapai 15 ton maka perusahaannya bisa mengantongi Rp 225 juta. Itu baru dari peleburan alumunium saja, belum keuntungan dari hasil menjual fiber yang digunakan di sayap serta karbon yang dipakai untuk bodi dan lempengan besi.

“Kalau total dijual rangkaian bangkai pesawat bisa Rp 600 juta. Anggapannya (kita ini) pengepul bangkai pesawat,” ucapnya.

Tomo kembali menceritakan, meskipun perusahaannya membeli bangkai pesawat Rp 300 juta, tapi sesungguhnya keseluruhan biaya yang dihabiskan tergolong mahal untuk satu unit pesawat. Bisa ditebak, ada ongkos tambahan berupa pungutan liar yang harus dibayar demi mendapat lampu hijau mengeluarkan pesawat dari bandara. Namun dia menolak menyebutkan secara detail pihak-pihak yang melakukan pungutan liar di bandara.

“Bayar biaya parkir yang biasanya diminta setelah dimutilasi dan biaya pengeluaran bangkai pesawat dengan total Rp 200 juta,” paparnya.