vivobetting
Contact Admin
bandar Q
Kapolri di Panggil Jokowi Ke Istana Untuk Dimintai Keterangan Tentang Fatwa MUI

Kapolri di Panggil Jokowi Ke Istana Untuk Dimintai Keterangan Tentang Fatwa MUI

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa mengenai pelarangan penggunaan atribut Natal bagi karyawan muslim di beberapa perusahaan. Menanggapi Hal ini, Presiden Joko Widodo memanggil Kapolri Jenderal Tito Karnavian ke Istana Kepresidenan untuk dimintai penjelasannya lebih jauh terkait Fatwa MUI tersebut.

“Presiden sekarang sedang memanggil Kapolri, Presiden telah memberikan arahan untuk Polri selalu berprinsip berpegang pada hukum yang berlaku karena hukum yang berlaku itulah yang menjadi landasan untuk Polri mengambil sikap,” kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Kompleks Istana Kepresidenan.

Pramono mengakui Kapolri dipanggil oleh Presiden Jokowi sekaligus mempertanyakan langkah Polresta Bekasi dan Kulon Progo, DIY yang mengeluarkan surat edaran bagi perusahaan di daerahnya untuk menindaklanjuti fatwa MUI tentang pelarangan menggunakan atribut Natal bagi umat Muslim tersebut.

“Maka dengan demikian apa yang dilakukan oleh Kapolres di Bekasi maupun di Kulonprogo yang kemudian menyikapi secara berlebihan karena memang fatwa MUI itu bukan hukum positif,” katanya.

Pramono menambahkan, hukum yang harus dipegang oleh kepolisian merupakan UU, PP, Perpres, Kepmen termasuk keputusan Kapolri sendiri bukan Fatwa MUI dalam mengambil suatu tindakan. “Dan sekarang Kapolri sedang dipanggil oleh Presiden untuk hal tersebut,” katanya.

Sebagaimana diketahui Polresta Bekasi dan Kulon Progo, DIY telah membuat edaran yang menindaklanjuti fatwa MUI tersebut. Tito pun mengaku langsung menegur kedua Kapolres tersebut.

“Saya sudah tegur keras pada Polres Metro Bekasi Kota dan Polres Kulonprogo Yogyakarta, saya tegur keras mereka karena tidak boleh keluarkan surat edaran yang mereferensikan pada fatwa MUI,” tegas Tito.

Selain menegur keras, Kapolri telah meminta komandan polisi dua daerah itu mencabut surat edaran yang dikeluarkan. “Saya suruh cabut (surat edarannya),” pungkas Tito.